Skip to content

Biaya Awal PLTS vs Biaya Listrik Tahunan: Mana Lebih Efisien?

Mari kita mulai dengan pertanyaan jujur yang sering muncul di benak setiap orang yang tertarik dengan energi surya: “Memasang panel surya itu mahal di awal, tapi apakah benar-benar lebih murah dalam jangka panjang?”

Pertanyaan ini sangat wajar. Membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah di muka memang terasa berat, sementara membayar tagihan listrik PLN setiap bulan terasa lebih “ringan” karena sifatnya yang bertahap. Namun, jika kita hitung secara cermat selama 20 hingga 25 tahun masa pakai PLTS, ceritanya bisa sangat berbeda.

Artikel ini akan mengupas tuntas perbandingan antara biaya awal investasi PLTS dengan biaya listrik tahunan dari PLN. Kita akan menggunakan data-data riset terbaru, studi kelayakan dari berbagai institusi, serta perhitungan ekonomi yang lazim digunakan dalam industri energi. Tujuannya satu yaitu membantu Anda menjawab pertanyaan besar tersebut dengan data, bukan sekadar opini.

Memahami Metode Perbandingan yang Tepat

Sebelum membandingkan, kita perlu memahami bahwa biaya awal PLTS dan biaya listrik PLN adalah dua hal yang tidak bisa dibandingkan secara langsung seperti membandingkan harga dua produk yang identik. Keduanya memiliki struktur biaya yang sangat berbeda, satu bersifat investasi di awal dengan manfaat jangka panjang, sementara yang lain bersifat pengeluaran rutin bulanan tanpa aset yang terbangun.

Untuk membandingkan secara adil, para ahli dan peneliti menggunakan metode yang disebut Levelized Cost of Energy atau LCOE. LCOE adalah biaya rata-rata produksi listrik per kilowatt-hour selama masa pakai sistem, yang sudah memperhitungkan biaya investasi awal, biaya operasional dan pemeliharaan tahunan, serta total produksi energi selama masa pakai yang biasanya mencapai 20 hingga 25 tahun. Dengan metode ini, kita bisa membandingkan “harga listrik” yang dihasilkan PLTS dengan tarif listrik PLN secara apple-to-apple.

Berapa Sebenarnya Biaya Awal PLTS?

Biaya awal PLTS sangat bervariasi tergantung pada kapasitas yang dipasang, jenis sistem apakah on-grid, off-grid, atau hybrid, lokasi pemasangan, serta kualitas komponen yang digunakan. Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua jenis.

Untuk skala rumah tangga dengan kapasitas 1 hingga 5 kWp, biaya awal yang dikeluarkan umumnya berkisar antara Rp20 juta hingga Rp30 juta per kWp yang terpasang. Jenis sistem juga sangat mempengaruhi harga. Sistem on-grid yang tidak menggunakan baterai jauh lebih murah dibandingkan sistem off-grid yang harus dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi. Merek dan kualitas komponen juga turut menentukan, di mana panel monocrystalline biasanya lebih mahal namun menawarkan efisiensi yang lebih tinggi.

Untuk skala komersial dan industri, biaya investasi tentu jauh lebih besar.

Berapa Biaya Listrik PLN per Tahun?

Tarif listrik PLN bervariasi berdasarkan golongan pelanggan. Untuk rumah tangga dengan daya 1.300 hingga 2.200 VA yang termasuk golongan tidak bersubsidi, tarif yang berlaku adalah Rp1.444,70 per kWh. Sementara untuk golongan bisnis dan industri kecil, tarifnya berkisar antara Rp1.035 hingga Rp1.114 per kWh. Untuk industri besar dengan golongan I-4, tarifnya lebih rendah lagi, yaitu sekitar Rp996,74 per kWh.

Sebagai ilustrasi untuk rumah tangga dengan daya 1.300 VA, jika konsumsi listrik rata-rata adalah 300 kWh per bulan, maka tagihan bulanan yang harus dibayar adalah sekitar Rp433.410. Dalam setahun, tagihan listrik mencapai sekitar Rp5,2 juta. Angka ini akan terus berulang setiap tahun, dan potensi kenaikan tarif di masa depan menambah beban yang harus ditanggung.

Perbandingan Efisiensi: Studi Kasus Nyata

Mari kita lihat beberapa studi kasus nyata yang telah dilakukan oleh berbagai institusi untuk melihat bagaimana perbandingan biaya PLTS dengan biaya listrik PLN dalam praktik sebenarnya.

Studi pertama dilakukan di Gedung Kesenian Dharma Negara Alaya di Denpasar. Sebelum memasang PLTS, gedung ini mengeluarkan biaya listrik tahunan sebesar Rp211 juta dari PLN. Setelah dilakukan perancangan sistem PLTS atap on-grid dengan biaya investasi Rp696 juta, hasil analisis menunjukkan bahwa masa pengembalian modal hanya membutuhkan waktu 5 tahun. Setelah periode tersebut, gedung ini menikmati listrik gratis dari PLTS selama sisa masa pakai sistem. Selama 25 tahun, keuntungan kumulatif yang diperoleh mencapai lebih dari Rp1,2 miliar, belum lagi kontribusi pengurangan emisi karbon sebesar hampir 50 ribu kilogram per tahun.

Studi kedua dilakukan di Delta Plaza Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan yang merencanakan pemasangan PLTS dengan kapasitas 4.622 kWp. Penelitian ini menggunakan metode LCOE untuk membandingkan biaya per kWh antara PLTS dan PLN. Hasilnya menunjukkan bahwa PLTS menghasilkan listrik dengan biaya hanya Rp425,82 per kWh, sementara tarif PLN untuk golongan bisnis adalah Rp1.035,78 per kWh. Artinya, PLTS mampu menghasilkan listrik dengan biaya 58,9 persen lebih murah dibandingkan membeli dari PLN. Dalam setahun, penghematan yang bisa diraih mencapai Rp4,69 miliar. Masa pengembalian modal untuk investasi ini diperkirakan sekitar 11 tahun 7 bulan.

Studi ketiga justru dilakukan oleh PLN sendiri di Kantor Unit Layanan Pelanggan Atambua. Penelitian ini merancang PLTS atap on-grid dengan kapasitas 13.200 Wp. Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa LCOE PLTS adalah Rp689,58 per kWh, yang ternyata lebih rendah dibandingkan tarif PLN. Dengan sistem ini, penghematan tagihan listrik mencapai 70 persen. Nilai Net Present Value atau NPV yang diperoleh positif sebesar Rp222 juta, sementara Internal Rate of Return atau IRR mencapai 11,7 persen, jauh di atas Minimum Attractive Rate of Return sebesar 6 persen. Masa pengembalian modal diperkirakan 13 tahun, dan investasi ini dinyatakan layak secara finansial.

Studi keempat memberikan perspektif berbeda untuk PLTS off-grid yang menggunakan baterai. Penelitian di Institut Teknologi Nasional Malang menunjukkan bahwa untuk skala rumah tangga dengan beban 100 watt, masa pengembalian modal mencapai 7 tahun. Kelebihan dari sistem ini adalah kemandirian energi dan bebas dari tagihan listrik bulanan, meskipun biaya awalnya lebih tinggi karena harus membeli baterai.

Faktor Penting yang Mempengaruhi Efisiensi PLTS

Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi keekonomian PLTS, terutama untuk rumah tangga, adalah kebijakan net metering. Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 menghapuskan skema net metering yang sebelumnya menguntungkan pengguna PLTS. Dampaknya, kelebihan listrik yang dihasilkan PLTS dan diekspor ke PLN tidak lagi mengurangi tagihan listrik. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform atau IESR, menyatakan bahwa tanpa net metering, kapasitas minimum PLTS atap untuk konsumen rumah tangga menjadi lebih sulit tercapai, sehingga biaya investasi per kWp menjadi lebih tinggi dan menurunkan keekonomian sistem.

Faktor kedua adalah pola konsumsi listrik. PLTS menghasilkan listrik maksimal di siang hari. Jika konsumsi listrik Anda juga tinggi di siang hari, efisiensi ekonomi akan lebih baik karena Anda menggunakan listrik dari PLTS secara langsung. Jika konsumsi puncak Anda di malam hari, Anda mungkin perlu menambah baterai atau menerima bahwa penghematan tidak semaksimal rumah dengan konsumsi siang hari yang tinggi.

Faktor ketiga adalah lokasi dan intensitas matahari. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi energi surya yang sangat baik, dengan durasi penyinaran efektif mencapai 4 hingga 6 jam per hari sepanjang tahun. Namun, intensitas matahari bisa berbeda antar wilayah. Wilayah dengan radiasi matahari lebih tinggi akan menghasilkan listrik lebih banyak, sehingga LCOE yang diperoleh lebih rendah.

Menghitung Waktu Balik Modal

Salah satu cara paling sederhana untuk mengevaluasi efisiensi PLTS adalah dengan menghitung payback period, yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga penghematan listrik menutupi biaya investasi awal. Rumusnya sangat sederhana: payback period sama dengan biaya investasi awal dibagi dengan penghematan listrik tahunan.

Dari berbagai studi yang ada, payback period untuk PLTS di Indonesia berkisar antara 5 hingga 13 tahun. Gedung Kesenian Denpasar mencapai balik modal dalam 5 tahun, Delta Plaza Surabaya dalam 11,6 tahun, Kantor PLN ULP Atambua dalam 13 tahun, dan PLTS off-grid rumah tangga dalam 7 tahun untuk beban 100 watt. Setelah masa tersebut, pengguna menikmati listrik gratis selama sisa masa pakai panel yang biasanya mencapai 20 hingga 25 tahun total.

Solusi Tanpa Biaya Awal

Bagi Anda yang tertarik dengan PLTS tetapi terkendala biaya awal yang besar, ada kabar baik. Beberapa perusahaan seperti SUN Energy menawarkan skema pembiayaan Zero Investment atau Build, Own, and Transfer. Dalam skema ini, tidak ada biaya awal yang harus dikeluarkan oleh pengguna. Seluruh investasi, operasional, dan perawatan ditanggung sepenuhnya oleh penyedia layanan. Pengguna cukup membayar biaya sewa per bulan dengan tarif per kWh yang lebih rendah dari tarif PLN. Potensi penghematan yang bisa diraih mencapai 30 hingga 40 persen per tahun. Skema ini sangat cocok untuk sektor industri dan komersial yang ingin beralih ke energi bersih tanpa mengganggu arus kas perusahaan.

Dalam jangka pendek, membayar listrik PLN terasa lebih “ringan” karena tidak memerlukan investasi besar di awal. Namun dalam jangka Panjang, PLTS jauh lebih efisien secara ekonomi. Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa PLTS tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sangat menguntungkan secara finansial, dengan pengembalian investasi yang positif dan penghematan yang signifikan selama masa pakainya.

Daftar Pustaka

Telkom University. (2025). Analisis Perbandingan Konsumsi Energi Gedung Delta Plaza dengan Metode LCOE. Repository Telkom University.

Institute for Essential Services Reform (IESR). (2024). Permen ESDM No. 2/2024 Membatasi Partisipasi Publik untuk mendukung Transisi Energi lewat PLTS Atap. Jakarta.

Universitas Mercu Buana. (2025). Studi Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Di Atap Rumah Tinggal Dengan Menggunakan Software Helioscope. Jurnal Teknologi Elektro.

Saputra, M. I. (2025). Komparasi Penggunaan PLTS Off Grid dengan PLN untuk Skala Rumah Tangga. Institut Teknologi Nasional Malang.

Universitas Pertamina. (2024). Perancangan PLTS Atap di Gedung Kesenian Dharma Negara Alaya Denpasar. Repository Universitas Pertamina.

Purnama, A. D. C. (2025). Analisis Kelayakan Ekonomi pada Perencanaan Sistem PLTS Rooftop On-Grid Kapasitas 13.200 Wp pada Kantor PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan Atambua. Politeknik Negeri Bali.