Skip to content

July 18, 2019

Kembangkan PLTS, pemerintah ingin diversifikasi energi

Sindonews.com – Semakin menipisnya minyak bumi menjadikam sumber energi alternatif terus dikembangkan pemerintah, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, dalam kerangka pengembangan energi alternatif itulah, telah diujicobakan PLTS di Kabupaten Bangli dan Karangasemn (Bali) dan di Pulau Sumbawa NTB.

Wacik menjelaskan, pembangunan ketiga PLTS tersebut menghabiskan lahan masing-masing seluas 1,2 hektar dengan investasi sekira Rp22 miliar. Pembangkit energi alternatif tersebut bisa menghasilkan tenaga listrik mencapai 1 megawatt.

“Ke depan kami mengharapkan PLTS ini bisa menjadi percontohan,” tegas Wacik di hadapan ratusan peserta forum pemred di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/6/2013).

Wacik melanjutkan, Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap minyak sehingga diversifikasi sumber energi menjadi sangat penting. Terlebih, produksi minyak di Indonesia terus mengalami penurunan dari 1,5 juta per barel, kini tinggal 900 ribu barel. Sementara kebutuhan akan minyak terus mengalami peningkatan dari 800 ribu sehari menjadi 1,5 juta.

Dengan kondisi seperti itu, kata Wacik, maka secara bertahap namun pasti, Indonesia harus mengubah ketergantungan terhadap energi minyak.

Sebaliknya, dia mengajak semua pihak untuk memulai memikirkan untuk pengembangan energi-energi lain, khususnya energi baru yang terbarukan.

Langkah pebisnis menuju energi hijau

Puncak gedung pencakar langit Tokopedia Tower di Ciptra World 2 Jakarta pada Kamis (20/6) pagi tampak di padati sejumlah pengusaha dari berbagai bidang. Mereka datang untuk melihat langsung demonstrasi cara kerja pembangkit listrik surya atap atau solar Photovaltic (Solar PV) rooftop.

Di atas gedung tersebut ditempatkan empat contoh modul pembangkit listrik tenaga surya atap. Di sebelahnya, terdapat tabung konversi daya (inverter) yang sedang diguyur air.

Kendati modul tidak terpapar sinar matahari secara langsung dan kondisi inverter basah, ternyata masih ada hantaran daya listrik. Bahkan, salah satu pebisnis yang hadir dalam acara ikut mencoba melempari modul dengan es batu. Hasilnya, modul tetap utuh tanpa kerusakan.

Xurya, sebuah perusahaan rintisan (startup) lokal penyedia jasa pembangkit listrik surya (PLTS) atap, memang ingin memperlihatkan bahwa kondisi alam tidak akan mempengaruhi kinerja modul untuk menyerap panas.

Pendiri Xurya Eka Himawan mengatakan bahwa energi surya memiliki potensi paling besar di bandingkan dengan jenis energi baru terbarukan lainnya.
Potensi energi surya di Tanah Air mencapai 200.000 megawatt (MW), tetapi kapasitas terpasang hingga akhir 2018 baru mencapai 90 MWp atau tidak sampai 1% dari potensi yang tersedia.

Himawan menjelaskan, penetrasi PLTS atap di Indonesia masih sangat rendah bila di bandingkan dengan negara lain di Aisa Tenggara.

Thailand misalnya, pemanfaatan energi surya untuk pembangkitan di Negeri Gajah Putih itu, kini mencapai 15.000 MW.