Skip to content
Berita Panel Surya

Hemat Biaya Listrik, Menteri Jonan Dorong Pemasangan PLTS Atap

Atap surya kini menjadi pemandangan yang tidak asing di ibu kota, gedung-gedung pencakar langit telah memasang modul fotovoltaik di rooftop untuk menyokong kebutuhan listrik. Jajaran panel surya yang terpasang pada atap, dinding, atau bagian luar gedung lainnya ini dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pun mengajak masyarakat untuk memasang PLTS Atap, karena selain mendukung program energi bersih yang bersumber dari energi terbarukan, pemasangan PLTS Atap juga dapat menghemat tagihan listrik bulanan.

“Kalau kita bikin PLTS (Atap) ini juga akan menghemat tagihan listrik, listriknya juga bisa impor-ekspor dengan PLN,” ujar Jonan dikutip dari laman Setkab, Jumat (9/8/2019).

Hampir semua gedung di Kementerian ESDM telah memasang PLTS Atap, salah satunya Gedung Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM, Jalan Pegangsaan Timur Jakarta Pusat.

PLTS Atap berkapasitas 20 kilo Watt peak (kWp) yang telah dipasang sejak 2015 tersebut memiliki kapasitas puncak 20.160 Watt per hari dengan pengisian baterai selama 4 jam.

“Dengan memanfaatkan luas lahan sekitar 40 meter persegi, kapasitas 20 kWp yang dipasang di atap Gedung Ditjen EBTKE mampu untuk menyalakan lampu bagi 8 lantai di bawahnya,” ungkap Sekretaris Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Halim Sari Wardana.

Halim berharap, gedung-gedung pemerintah, lembaga, swasta maupun komersial, khususnya di Jakarta segera mendukung percepatan PLTS Atap ini, karena 20 persen saja dari luas atap yang dimanfaatkan untuk PLTS ini sudah berkontribusi mengurangi polusi.

Selain Kantor Ditjen EBTKE, Kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM yang berlokasi di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan juga telah memasang PLTS sejak 2010. Saat ini kapasitas totalnya mencapai 130 kWp dan bisa menghemat biaya listrik gedung tersebut hingga Rp 10 juta per bulan.

Read More »
Berita Panel Surya

Kembangkan PLTS, pemerintah ingin diversifikasi energi

Sindonews.com – Semakin menipisnya minyak bumi menjadikam sumber energi alternatif terus dikembangkan pemerintah, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, dalam kerangka pengembangan energi alternatif itulah, telah diujicobakan PLTS di Kabupaten Bangli dan Karangasemn (Bali) dan di Pulau Sumbawa NTB.

Wacik menjelaskan, pembangunan ketiga PLTS tersebut menghabiskan lahan masing-masing seluas 1,2 hektar dengan investasi sekira Rp22 miliar. Pembangkit energi alternatif tersebut bisa menghasilkan tenaga listrik mencapai 1 megawatt.

“Ke depan kami mengharapkan PLTS ini bisa menjadi percontohan,” tegas Wacik di hadapan ratusan peserta forum pemred di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/6/2013).

Wacik melanjutkan, Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap minyak sehingga diversifikasi sumber energi menjadi sangat penting. Terlebih, produksi minyak di Indonesia terus mengalami penurunan dari 1,5 juta per barel, kini tinggal 900 ribu barel. Sementara kebutuhan akan minyak terus mengalami peningkatan dari 800 ribu sehari menjadi 1,5 juta.

Dengan kondisi seperti itu, kata Wacik, maka secara bertahap namun pasti, Indonesia harus mengubah ketergantungan terhadap energi minyak.

Sebaliknya, dia mengajak semua pihak untuk memulai memikirkan untuk pengembangan energi-energi lain, khususnya energi baru yang terbarukan.

Read More »
Berita Panel Surya

Langkah pebisnis menuju energi hijau

Puncak gedung pencakar langit Tokopedia Tower di Ciptra World 2 Jakarta pada Kamis (20/6) pagi tampak di padati sejumlah pengusaha dari berbagai bidang. Mereka datang untuk melihat langsung demonstrasi cara kerja pembangkit listrik surya atap atau solar Photovaltic (Solar PV) rooftop.

Di atas gedung tersebut ditempatkan empat contoh modul pembangkit listrik tenaga surya atap. Di sebelahnya, terdapat tabung konversi daya (inverter) yang sedang diguyur air.

Kendati modul tidak terpapar sinar matahari secara langsung dan kondisi inverter basah, ternyata masih ada hantaran daya listrik. Bahkan, salah satu pebisnis yang hadir dalam acara ikut mencoba melempari modul dengan es batu. Hasilnya, modul tetap utuh tanpa kerusakan.

Xurya, sebuah perusahaan rintisan (startup) lokal penyedia jasa pembangkit listrik surya (PLTS) atap, memang ingin memperlihatkan bahwa kondisi alam tidak akan mempengaruhi kinerja modul untuk menyerap panas.

Pendiri Xurya Eka Himawan mengatakan bahwa energi surya memiliki potensi paling besar di bandingkan dengan jenis energi baru terbarukan lainnya.
Potensi energi surya di Tanah Air mencapai 200.000 megawatt (MW), tetapi kapasitas terpasang hingga akhir 2018 baru mencapai 90 MWp atau tidak sampai 1% dari potensi yang tersedia.

Himawan menjelaskan, penetrasi PLTS atap di Indonesia masih sangat rendah bila di bandingkan dengan negara lain di Aisa Tenggara.

Thailand misalnya, pemanfaatan energi surya untuk pembangkitan di Negeri Gajah Putih itu, kini mencapai 15.000 MW.

Read More »